SOFTSKILL PPKN 3
PERANAN INDONESIA DALAM MEWUJUDKAN PERDAMAIAN DUNIA OLEH KAA

NAMA : HARIMAN SUHUD
KELAS : 2EA32
NPM ` : 13213924
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
Sejarah Singkat Konferensi Asia-Afrika
Konferensi Asia – Afrika diawali oleh Konferensi Colombo, dicolombo, Ibukota Negara Sri Lanka. Konferensi Colombo dilaksanakan tanggal 28 april – 2 mei 1954. Konferensi ini mempertemukan lima pimpinan negara Asia, sebagai berikut:
· Pandit Jawaharlat Nehru (Perdana Menteri India)
· Sir John Kotelawala (Perdana Menteri Sri Lanka)
· Moh. Ali Jannah (Perdana Menteri Pakistan)
· U. Nu (Perdana Menteri Burma/Myanmar)
· Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri Indonesia)
Konferensi Colombo ini menghasilkan beberapa kesepakatan, salah satunya adalah kesepakatan untuk menyelanggarakan Konferesi Asia – Afrika (KAA) dalam waktu dekat. Indonesia disepakati menjadi tuan rumah konferensi tersebut. Sebelum KAA dilaksanakan, tanggal 28 -31 desember 1954 diadakan sebuah pertemuan persiapan di Bogor, Indonesia[2]. Konferensi ini dihadiri oleh wakil dari lima negara yang hadir pada Konferensi Colombo sebelumnya. Dalam pertemuan ini disepakati beberapa hal sebagai berikut:
1. KAA diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955
2. Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor
3. Menetapkan 25 negara Asia-Afrika yang akan diundang
4. Menentukan empat tujuan pokok KAA berikut ini:
o Memajukan kerja sama antarbangsa Asia-Afrika demi kepentingan bersama
o Membahas dan meninjau persoalan ekonomi, sosial, dan budaya
o Membahas dan berusaha mencari penyelesaian masalah kedaulatan nasionalisme, rasialisme, dan kolonialisme
o Memperkuat kedudukan dan peranan Asia-Afrika dalam usaha perdamaian dunia
KAA diselanggarakan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 18 -24 april 1955. Konferensi ini dihadiri oleh 23 negara Asia dan 6 negara Afrika. Anggota konferensi dari Asia adalah Indonesia, India, Burma, Pakistan, Sri Lanka, Cina, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Laos, Kamboja, Thailand, Filipina, Nepal, Afganistan, Iran, Irak, Yordania, Turki, Syria, Saudi Arabia dan Yaman. Adapun negara–negara dari benua Afrika adalah Mesir, Ethiopia, Libya, Sudan, Liberia dan Pantai Emas ( sekarang Ghana). Konferensi Asia Afrika berjalan dengan sukses. KAA menjadi pusat perhatian dunia saat itu. Indonesia pun tidak lepas dari perhatian dunia karena menjadi tuan rumah. Konferensi Asia Afrika menghasilkan beberapa keputusan penting. Beberapa keputusan penting tersebut sebagai berikut :
· Memajukan kerja sama antarbangsa di kawasan Asia dan Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan
· Menyerukan kemerdekaan Aljazair, Tunisia, dan Maroko dari penjajahan Prancis
· Menuntut pengembalian Irian Barat (sekarang Papua) ke Perda Indonesia dari Aden kepada Yaman
· Menentang diskriminasi dan kolonialisme
· Ikut aktif dalam mengusahakan dan memelihara perdamaian dunia.
Selain beberapa keputusan penting tersebut. Konferensi Asia Afrika juga mencetuskan dasasila bandung atau disebut juga “bandung declaration”[3]. Penyelenggaraan KAA didasarkan pada beberapa hal :
· Persamaan nasib dan sejarah, yaitu bangsa-bangsa di Asia-Afrika terutama pernah mengalami penjajahan
· Kesadaran untuk memperoleh kemerdekaan
· Kecemasan akan persaingan Blok Barat dan Blok Timur
· Perubahan politik pada tahun 1950-an, yaitu berakhirnya Perang Korea (1953). Akibat Perang Korea, semenanjung terbagi menjadi dua negara, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Peristiwa ini semakin menambah ketegangan dunia dikarenakan adanya intervensi dari blok yang bersaing
· PBB sudah ada forum konsultasi dan dialog antarnegara yang baru merdeka, tetapi di luar PBB belum ada forum yang menjembatani dialog antarnegara tersebut
· Persamaan masalah sebagai negara yang masih terbelakang dan berkembang.
Adapun penyelenggaraan KAA mempunyai tujuan berikut:
1. Mengembangkan saling pengertian dan kerja sama antarbangsa Asia-Afrika dan meningkatkan persahabatan
2. Membicarakan dan mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan
3. Memperhatikan masalah khusus terkait dengan kedaulatan, kolonialisme, dan Imperialisme
4. Memerhatikan posisi dan partisipasi Asia-Afrika dan bangsa-bangsa dalam dunia Internasional
Peran Indonesia Dalam Konferensi Asia-Afrika
Setelah perang dunia ke II selesai, muncul dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu blok barat dan blok timur. Sikap bangsa Indonesia terhadap adanya dua kekuatan tersebut tidak mau memihak salah satu blok. Sebagai warga negara penganut politik luar negeri bebas aktif, bangsa Indonesia mengambil jalan sendiri untuk tetap memelihara perdamaian dan meredakan, ketegangan dunia akibat perang dingin. Salah satu upaya bangsa Indonesia untuk memelihara perdamaian dunia adalah dengan menggalangkan persatuan dengan negara–negara di kawasan asia dan afrika. Bersama dengan negara lain, yaitu india, Pakistan, Sri Lanka dan Burma ( Myanmar ). Bangsa Indonesia diwakili oleh ali sastroamijoyo menjadi sponsor pelaksanaan konfersi asia afrika. Terlaksananya KAA tidak bisa lepas dari peran Indonesia. Di samping sebagai salah satu pelopor dan pemrakarsa KAA, Indonesia menyediakan diri sebagai tempat penyelenggaraan KAA. Hal ini membuktikan prestasi Kabinet Ali Sastroamijoyo yang berhasil menyelenggarakan suatu kegiatan yang bersifat internasional. Dalam pelaksanaan KAA Indonesia berperan penting, karena selain menjadi tempat berlangsungnya Konferensi tersebut Indonesia juga salah satu negara yang ingin bangsanya hidup setara, maju di berbagai bidang dan tidak ingin tertindas oleh Negara barat, yang paling penting adalah mengutamakan kerjasama.
Komentar
Posting Komentar